Senin, 30 Juli 2018

5 PERKARA

“Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati.” (Hadis)

Ketika Nabi Muhammad Saw mewasiatkan lima hal di atas, beliau tentu tidak berpikir soal asuransi. Para ulama pun lebih memaknai hadis tersebut sebagai peringatan agar kita banyak beramal sebelum segalanya terlambat, baik kesempatan maupun kemampuan.

 

Namun jika kita merenungkan kembali pesan Nabi tersebut di masa sekarang, dengan mudah kita menemukan betapa erat kaitannya hadis ini dengan produk keuangan modern yang disebut asuransi. Tanpa mengurangi penafsiran yang telah disajikan para ulama, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, dan lapang sebelum sempit dapat dimaknai sebagai anjuran mengikuti asuransi kesehatan, kaya sebelum miskin berarti saran untuk mengambil proteksi atas penghasilan, dan hidup sebelum mati merupakan dasar dari asuransi jiwa.

Saat ini kita sehat, tapi siapa yang menjamin kita akan selalu sehat, apalagi jika usia tidak lagi muda? Bahkan yang muda pun tidak kebal dari penyakit. Ketika sakit, banyak kerugian akan kita alami, antara lain berkurangnya kenyamanan fisik, finansial, dan waktu yang berharga. Oleh karena itu, mumpung masih muda, sehat, dan punya waktu, persiapkanlah sesuatu agar kerugian di kala sakit bisa diminimalkan. Di sini, asuransi kesehatan berperan mengurangi kerugian finansial.

Sekarang kita kaya, tapi siapa yang bisa memastikan kita akan kaya selamanya? Ada sejumlah kemungkinan yang bisa membangkrutkan harta seseorang. Kebakaran, kemalingan, bencana alam, sakit, kecelakaan, dan cacat. Asuransi berfungsi memproteksi penghasilan kita dari risiko-risiko semacam itu. Tentu kita berharap hal-hal tersebut tidak perlu dialami. Tapi siapa yang tahu?

Sedangkan asuransi jiwa adalah pengingat yang luar biasa bahwa setiap manusia pasti mati, dan kematian itu tidak tentu waktunya. Ikut asuransi jiwa berarti dengan rendah hati mengakui bahwa kita ini manusia fana, yang mungkin mati kapan saja. Yang dilindungi asuransi jiwa bukanlah diri kita, tapi orang-orang yang kita sayangi (istri/suami, anak-anak, kerabat). Terutama bagi penanggung nafkah utama keluarga, asuransi jiwa wajib dimiliki agar kita dapat memperhatikan mereka bukan hanya ketika kita hidup, tapi juga jika kita ditakdirkan berumur pendek. Asuransi jiwa membantu para janda dan anak-anak yatim agar tidak telantar. Ini juga sekaligus memenuhi perintah Allah (QS 4:9) agar kita tidak meninggalkan di belakang kita generasi yang lemah, termasuk dalam hal ekonomi.

Banyak orang Islam enggan berasuransi karena menganggap hal itu melawan takdir. Anggapan ini perlu diluruskan. Asuransi tidak mencegah risiko terjadi. Ikut asuransi atau tidak, manusia tetap mungkin mengalami musibah, entah itu sakit, kecelakaan, ataupun kematian. Yang dicegah asuransi adalah kerugian keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Tinggal sekarang, kita mau ikut asuransi yang seperti apa. Sebagai muslim, sudah selayaknya dalam bermuamalah kita berlaku sesuai tuntunan syariat Islam. Hal ini dimungkinkan pada masa sekarang, karena telah hadir asuransi syariah yang dibangun dengan landasan tolong-menolong (ta’awuni) dan prinsip berbagi risiko (risk sharing), sehingga insya Allah bernilai ibadah.

#AsuransiTakafulKeluarga
#I'mTakafulSquad
#AsuransiSyariah

Sabtu, 28 Juli 2018

EMAS BATANGAN VS POLIS PENDIDIKAN

Ada yang nanya, Untuk Tabungan pendidikan anak Saya, Saya siapkan dalam bentuk emas batangan. Dah bener gak sih?
Saya jawab, jika tujuannya murni investasi untuk biaya pendidikan, dah benerlah. Return di atas 7%. Pastikan Saja, estimasi hasil investasinya cukup untuk biaya pendidikannya.
She:"Bagaimana dengan pengaruh  inflasi untuk emas?
Me: "Biasanya jika inflasi naik, harga Emas juga naik, jadi amanlah"
Adalah benar jika Biaya pendidikan tidak selalu harus diprogram dalam bentuk polis asuransi. Banyak kok alternatif lain menyiapkan biaya pendidikan.
Intinya, Sepanjang salah satu atau kedua ortunya masih bekerja, apalagi jika punya aset, InsyaAllah, Anak-anak akan tetap sekolah.
SHE:"Nah kalau gitu, Lantas Apa kelebihan nabung pendidikan di Perusahaan asuransi, Mb Naning?"
ME: "Saya tanya dulu yaak, berapa rencana nominal biaya pendidikan yang Ingin Ibu persiapkan buat bayi Ibu? 300 juta, 500 juta atau 1M?"
Contoh, Ibu milih 500 juta, maka Saat Ibu memulai menyetor tabungan pendidikan Anak Ibu. Asumsi nyetor bulanan nih, Maka di saat yang sama Dana 500 juta itu sesungguhnya sudah ready di perusahaan. Akad sharing of risk, Mode ON.

Jadi jika tulang punggung berpulang dalam rentang waktu masa sekolah anak, Biaya pendidikannya bukan masalah lagi.

Daaan, benefit seperti Itu jelas Gak ada,  jika menyiapkan biaya pendidikan dengan cara yang lain.

Jika tidak terjadi musibah?
Satu kata, Alhamdulillah!!

Artinya Dana 500 juta, insyaAllah akan sampai juga angkanya, kan yang ini bukan cuma produk asuransi  semata, tapi investasi juga.

Jadi nabung di Asuransi mirip Fungsi Ban serep,   berharap tak memakainya. 
Tapi silahkan disurvey, yang smart tetep akan memilih membawa kemana-mana ban serepnya. Hehe..

#EduAsuransi
#TakafulKeluarga
#AsuransiPendidikan